Pengamat Ekonomi: Jangan Sepele dengan Pedagang Asongan

PEMERINTAH diharapkan mampu dan lebih bijak lagi meningkatkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk mengatasi terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan sejumlah perusahaan besar bidang elekronik seperti Panasonic dan Toshiba minggu ini karena menutup pabriknya sehingga berdampak pada ribuan tenaga kerja terkena PHK.

Pengamat ekonomi Polin LR Pospos menanggapi hal itu ketika ditanya soal terjadinya PHK perusahaan elektronik tersebut dan dampaknya pada perekonomian nasional, (4/2/2016).

Diketahui Toshiba dan Panasonic kini tengah merestrukturisasi pabriknya yang berdampak pada ribuan tenga kerja di-PHK.

Polin menyebut, perusahaan elektonik itu dikategorikan sektor ekonomi formal yang bergantung pada pasar luar negeri dan ekonomi dunia. Jadi kalau pasar luar negeri bergejolak turun, maka pasarnya terganggu yang gilirannya produksi turun dan akhirnya PHK terjadi. Sedangkan sektor informal seperti pedagang kecil tidak bergantung pada ekonomi dunia karena pasarnya lokal (dalam negeri).

Untuk itu, menurutnya, pemerintah perlu terus menggalakkan sisi sektor ekonomi informal yang pasarnya dalam negeri sehingga kalaupun ada gejolak luar negeri maka sektor informal tetap bisa bertahan.

Langkah penguatan sektor informal ini cukup berhasil ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi tahun 1997-1998. “Ketika krisis masa orde baru itu, justru sektor informal yang menyelamatkan ekonomi Indonesia,” terang Polin.

Sektor informal itu jelasnya, berupa UMKM seperti pedagang kecil, perajin lokal dan sebagainya. Sektor ini perlu dibantu dengan dana yang tersedia seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Kalaupun ada sektor formal yang padat karya, namun sektor informal harus tetap diperhatikan peningkatannya. “Jangan anggap enteng dengan sektor informal seperti pedagang asongan itu,” katanya.

Tumbuhnya sektor informal maka mampu menampung tenaga kerja. Jadi kalau ada “apa-apa” di sektor formal maka ada penyangga (buffer)nya sektor informal yang menampung tenaga kerja kena PHK tadi.

Polin menilai, PHK di perusahaan elektronik besar itu bukan karena dampak Paket Kebijakan Presiden Jokowi sampai jilid IX.

Menurutnya, Paket Kebijakan Presiden Jokowi justru untuk penguatan dan memperkokoh ekonomi dalam negeri (nasional).

Intinya paket kebijakan itu memberikan angin segar bagi pengusaha dan investor di mana pengurusan ijin dipercepat, infrstuktur ditingkatkan dan dipercepat meski pelaksanaannya di lapangan belum berjalan maksimal.

Jika ekonomi dunia menggeliat supaya ekonomi kita bisa meresponnya dengan baik. Jadi dia sangat menyayangkan adanya komentar kalau pabrik tutup akibat Paket Kebijakan yang dikeluarkan Presiden Jokowi.

PHK yang dilakukan Panasonic dan Toshiba menurut Polin dapat mempengaruhi perekonomian Indonesia dari sisi banyaknya pengangguran baru yang gilirannya daya beli tak ada sehingga menjadi beban sosial. “Inilah yang akhirnya membuat terjadi perlambatan ekonomi,” katanya. (OB1)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share
Share
Web Design BangladeshBangladesh Online Market