TPL Selalu Mengedepankan Konsep Ramah Lingkungan

OBROLANBISNIS.com – Pagelaran 8th Indonesia Climate Change Education Forum & Expo 2018 di Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention Medan (17-19 Oktober 2018), PT Toba Pulp Lestari, Tbk (TPL), perusahaan bubur kertas terbaik di Sumatera Utara, tampil dengan konsep stand yang menarik pengunjung dengan menampilkan proses produksi Pulp yang mengedepankan ramah lingkungan.

TPL sebagai perusahaan yang tetap mengedepankan pengelolaan hutan tanaman industri secara berkelanjutan ini, sejak beroperasi sampai saat ini selalu menerapkan sistem produksi yang ramah dengan lingkungan.

Pengelolaan lingkungan dengan prinsip 3R (Reuse, Reduce, Recycle) sudah menjadi komitmen perseroan dalam mengelola lingkungan, sehingga mengurangi peningkatan perubahan dan kenaikan suhu global.

“Pengelolaan lingkungan yang baik oleh perusahaan dituangkan dalam dokumen kebijakan lingkungan perseroan, yaitu memaenuhi semua peraturan undang-udang lingkungan, TPL juga terus melakukan perbaikan yang berkesinambungan, menggunakan sumber daya secara efisien,” ungkap Direktur TPL Mulia Nauli, Kamis (18/10/2018), dalam pameran Climate Change Education Forum & Expo 2018.

Mulia Nauli juga mengatakan, dalam visinya TPL menjadi salah satu perusahaan yang memiliki basis sumber daya yang berkelanjutan dan terbesar. Bahkan berupaya tampil dengan manajemen yang terbaik dan senantiasi memberikan nilai kepada masyarakat, negara, iklim, pelanggan dan perusahaan.

“Sebagai perusahaan global penghasil pulp dengan lahan konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) eucalyptus seluas 185.016 Ha di Sumut, perusahaan akan memberikan dan menghasilkan yang terbaik untuk semua, good for community, country, climate, company, customer,” ungkap Mulia Nauli didampingi Manager Humas Ir Simon H Sidabukke MSi Cand Dr dan staf humas TPL.

Dalam event Climate Change Education Forum & Expo tahun ini, TPL juga menggandeng penggiat lingkungan, penerima anugerah kalpataru sekaligus pemilik wisata alam Taman Eden 100 Marandus Sirait.

Kolaburasi bersama ini merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap para pemerhati lingkungan, yang selama ini bergandengan tangan dengan perusahaan dalam mempertahankan tanaman endemik khas Tapanuli, yakni Andaliman, dan Kemenyan.

Marandus Sirait mengatakan, Andaliman merupakan bumbu kahas dari Tanah Batak yang sudah dikenal oleh nenek moyang sejak masa peradaban dulu. Mempertahankan dan perbanyakan pembibitan terhadap tanaman ini, perlu dilakukan dalam mempertahankan tanaman khas Tapanuli yang mulai terlupakan. Disamping itu tanaman ini menurut Marandus Sirait memiliki nilai ekonomis yang menjanjikan.

Bentuk kolaborasi Marandus Sirait dan TPL dalam pengembangan bibit andaliman sekaligus pelestarian lingkungan, diharapkan memberikan peluang baru terhadap eknomi masyarakat. Perbanyakan bibit dengan target 20 ribu kepada masyarakat melalui training penanaman dan perawatan andaliman, juga telah dilakukan.

“Saya bersyukur masih ada perusahaan seperti TPL yang peduli dengan tanaman endemik Andaliman. Saat ini sudah 14 ribu bibit diberikan kepada masyarakat, dengan biaya ratusan juga rupiah dukungan dari TPL. Sementara itu dalam pameran ini saya juga diberi kesempatan untuk mengenalkan dan menjual produk makanan dan bumbu dengan menggunakan bahan Andaliman,” tutur Marandus sambil memperlihatkan bumbu siap saja yang dikemas dalam botol, dan sejumlah makanan ringan yang menggunakan Andaliman.

Sedikitnya ada 197 negara anggota United Nations Framework Covention on Climate Change (UNFCCC) berkomitmen dan berupaya untuk mencegah pemanasan global.

Kepala Badan Litbang dan Inovasi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Dr Ir Agus Justianto, dalam sambutannya mengatakan pemanasan global telah menjadi perhatian masyarakat dunia.

Bahkan dampak dari pemanasan global banyak peristiwa bencana alam, yang terjadi di wilayah Indonesia, seperti banjir, longsor, dan angin ribut yang semakin sering,

Sementara itu, Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Djati Witjaksono Hadi, yang mewakili Sekjen KLHK Bambang Hendroyono mengatakan pemerintah Indonesia telah meratifikasi Paris Agreement to the UNFCCC mengenai, Persetujuan Paris atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan Iklim melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 pada tanggal 24 Oktober 2016.

“Harapannya agar para stakeholder di Indonesia menaruh perhatian pada perubahan yang terjadi di lingkungan. Terutama terkait perubahan iklim dan masyarakat semakin banyak mendapat informasi terkait perubahan iklim di tanah air,” tuturnya ketika mengunjungi stand TPL di event Climate Change Education Forum & Expo 2018 di Medan. ***

[rel/OB1]

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share
Share
Web Design BangladeshBangladesh Online Market