Tekanan Inflasi Sumut Dipicu Faktor Non Fundamental

Sumber inflasi juga terkait dengan dampak kenaikan cukai rokok pada beberapa periode lalu dengan sumbangan inflasi dari komoditas Rokok Kretek Filter yang hanya sebesar 0,01%. Di sisi lain, tekanan inflasi dapat dikurangi dengan adanya penguranga tarif angkutan udara pasca perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional pada September lalu.

Ditengah masih tingginya tekanan inflasi kelompok volatile food tersebut, tekanan inflasi yang bersifat fundamental justru mulai mereda. Pada Oktober 2016, kelompok inflasi inti tercatat deflasi -0,10% (mtm) sehingga secara tahunan menurun menjadi 5,30%.

Menurunnya tekanan inflasi inti terutama disebabkan oleh terus berlanjutnya penurunan harga emas dunia yang dibarengi oleh penguatan nilai tukar dan terjaganya ekspektasi inflasi. Perbaikan pasokan gula pasir di pasaran juga turut berkontribusi pada menurunnya tekanan inflasi.

Ke depan, perkembangan infflasi bulan November 2016 diperkirakan mereda. Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Utara terus memantau resiko tekanan inflasi terutama pada komoditas pangan. Hal ini terkait dengan pasokan bahan pangan yang terbatas dengan masuknya musim tanam khususnya padi.

TPID senantiasa berkomitmen untuk melakukan koordinasi dalam menjalankan roadmap pengendalian inflasi dalam jangka pendek dan menengah. Diantaranya adalah perluasan areal tanam untuk memperbaiki produktivitas lahan yang terserang penggangu tanaman.

Hal tersebut perlu dilakukan agar ekspektasi inflasi tetap terjaga untuk mendukung pencapaian sasaran inflasi jangka panjang. (rel/OB1)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share
Share
Web Design BangladeshBangladesh Online Market