Aktivis Tano Batak Ini Sebut Sengketa Tanah Adat di Natumingka ‘Ditunggangi’ NGO/LSM

  • Whatsapp
Aktivis Tano Batak Ini Sebut Sengketa Tanah Adat di Natumingka 'Ditunggangi' NGO/LSM

Aktivis Tano Batak Ini Sebut Sengketa Tanah Adat di Natumingka ‘Ditunggangi’ NGO/LSM | OBROLANBISNIS.com — Sengketa tanah adat di Hutan Negara yang kini dikelola menjadi kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) oleh perusahaan PT. Toba Pulp Lestari (TPL), Tbk, terus bergulir antara masyarakat Desa Natumingka Kecamatan Borbor Kabupaten Toba, dengan PT. Toba Pulp Lestari (TPL), Tbk.

Konflik berkepanjangan itu dinilai ‘ditungganggi’ NGO (Non-Governmental Organization) atau yang di Indonesia sering disebut sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Salah satu tokoh aktivis masyarakat Tano Batak asal Simalungun, Nursedima Parhusip secara blak-blakan mengaku, sudah belasan tahun berteman dan mengenal AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) atau The Alliance of Indigenous Peoples of the Archipelago (AMAN) serta KSPPM (Kelompok Studi Pengembangan Prakarsa Masyarakat).

 

Bacaan Lainnya

Keduanya merupakan NGO (Non-Governmental Organization) atau LSM yang melakukan program pendampingan terkait penuntutan tanah adat di Indonesia. Termasuk di Desa Natumingka Kecamatan Borbor Kabupaten Toba, yang belakang ini sedang ‘hot’ di publik gegara konflik antara masyarakat dan perusahaan pulp.

“Saya sudah berteman dengan KSPPM dan AMAN lebih dari cukup. Biaya dan waktu sudah terkuras hanya mendengarkan dan mengikuti arahan mereka yang tidak jelas, hasilnya hanya mengklabui masyarakat saja. Menyesal saya mengenal dan ikut program mereka, semuanya hanya membual omong kosong tidak ada hasil sedikitpun. Malah kami sebagai masyarakat dirugikan dengan sumbangan biaya dan waktu kami,” cerita Nursediam Parhusip kepada awak media, Kamis, 4 Juni 2021.

 

INFO BISNIS

• TPL Minta LSM Asing Hormati Penyelesaian Tanah Adat di Indonesia

Nursedima Parhusip mengungkapkan itu semua karena sadar sebagai tokoh aktivis masyarakat Simalungun sekaligus petani yang pernah terprovokasi, dengan LSM tersebut melalui program pendampingan.

Nursedima Parhusip adalah masyarakat Dusun II Nagahulambu Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara. Diusianya yang sudah memasuki 67 tahun ini, ia berupaya memberikan pencerahan kepada masyarakat agar tidak menjadi korban dari provokasi NGO/LSM.

 



Dari kacamatanya, hasil ‘perjuangan’ masyarakat tidak akan pernah ada kejelasan. “Masyarakat hanya diajak untuk melakukan aksi protes melawan pemerintah dan perusahaan, namun hasilnya tidak pernah ada kejelasan,” beber boru Parhusip.

Dengan pengalaman dan perjuangan yang tidak ada artinya, Nursedima menghimbau masyarakat Natumingka, untuk tidak terprovokasi dengan pihak LSM/NGO, yang dinilai sengaja dibentrokkan dengan perusahaan.

 

INFO BISNIS

• PT TPL Hormati Hak-hak Masyarakat Adat

“Tidak ada gunanya bentrok antara masyarakat dan perusahaan, sebaiknya bekerjasama dan bermitra, sehingga pemerintah dalam hal ini dinas kehutanan dapat merekomendasi masyarakat, untuk program pengembangan. Karena semua lahan adalah milik negara dan bukan milik opung kita,” tutur Nursedima Parhusip.

Karena, menurutnya, kerugian terbesar malah terjadi pada masyarakat yang menjadi korban, baik secara fisik maupun mental. Tuntutan pengakuan tanah adat sebaiknya dibicarakan dengan cara perdamaian antara masyarakat, pemerintah dan perusahaan.

Karena, menurutnya, semua mekanisme tersebut sudah ada aturan hukum yang diberlakukan negara, dan tidak begitu saja dapat diakui oleh pemerintah.

 

Nursedima Parhusip menambahkan, saat ini lebih baik masyarakat saling bekerjasama dengan pemerintah dan perusahaan dalam membangun perkampungan Natumingka.

“Harapan saya kepada masyarakat Natumingka, sebaiknya jangan mau masyarakat dibentrokkan oknum LSM dengan perusahaan, saya sudah pernah menjadi korbannya, sebaiknya berdamai saja tidak ada gunanya. Karena sebenarnya kehadiran perusahaan ditengah masyarakat sangat berguna, dalam membantu pembangunan, seperti jalan mendukung pertanian dan perekonomian,” harap Nursedima Parhusip.

 



Nursedima Parhusip sangat dikenal sebagai aktivis masyarakat yang banyak membantu dan membuat perubahan dikampung kelahirannya. Perinsip hidup wanita tangguh ini sangat sederhana yakni hidup berteman dengan siapapun, dan selalu memikirkan kebersamaan untuk kemajuan masyarakat.

Kini lahan pertanian dan perkebunan warga Dusun II Nagahulambu yang berada diwilayah konsesi PT. Toba Pulp Lestari, Tbk telah menjadi program tumpang sari.

Hasil dari perkebunan seperti pohon aren, jengkol dan lainnya dapat dipanen masyarakat dan mendapatkan dukungan dari pihak perusahaan. Terutama pembangunan jalan di kawasan Dusun Nagahulambu, sangat membantu laju perekonomian masyarakat.funding aman

Dari penelusuran media, melalui laman https://www.devex.com, Aman dan KSPPM terdata sebagai NGO/LSM asal Indonesia yang mendapatkan funding (pendanaan) dari pihak luar negeri. ***

funding ksppm

 



Google Translate


This Tano Batak Activist Calls Indigenous Land Dispute in Natumingka ‘ridden’ by NGOs/NGOs | OBROLANBISNIS.com — Customary land dispute in State Forest which is now being managed as Industrial Plantation Forest (HTI) by PT. Toba Pulp Lestari (TPL), Tbk, continues to roll between the people of Natumingka Village, Borbor District, Toba Regency, with PT. Toba Pulp Lestari (TPL), Tbk.

The conflict is considered ‘ridden’ by NGOs (Non-Governmental Organizations) or what in Indonesia is often referred to as Non-Governmental Organizations (NGOs).

One of the prominent Tano Batak community activists from Simalungun, Nursedima Parhusip bluntly admitted that she had been friends for a dozen years and knew AMAN (Aliansi Indigenous Peoples of the Archipelago) or Alliance of Indigenous Peoples of the Archipelago (AMAN) and KSPPM (Study Group for Community Initiative Development).

 

 



is an NGO (Non-Governmental Organization) or an NGO that carries out assistance programs related to customary land in Indonesia. This includes Natumingka Village, Borbor District, Toba Regency, which is behind this being ‘hot’ in the public because of the conflict between the community and the pulp company.

“I have been friends with KSPPM and AMAN is more than enough. Costs and time have been wasted just listening and following their unclear directives, the result only deceives the public. I regret knowing and joining their program, everything is just boasting between nothing and no end result. In fact, we as a society have been harmed by the contribution of our money and time,” Nursediam Parhusip told the media, Thursday, June 4, 2021.

 

 



Nursedima Parhusip said it was all because she was aware that she was an activist of the Simalungun community as well as a farmer who had been provoked, with the NGO through a mentoring program.

Nursedima Parhusip is a community member of Dusun II Nagahulambu, Simalungun Regency, North Sumatra Province. At the age of 67, he tries to provide enlightenment to the community so that they do not become victims of provocation NGOs/NGOs.

From his perspective, the results of the community’s ‘struggle’ will never be prejudiced. “People are only invited to protest against the government and companies, but the result has never been a refusal,” said Boru Parhusip.

 



With experience and meaningless struggles, Nursedima appealed to the people of Natumingka, not to be provoked by NGOs/NGOs, who were deemed to have deliberately clashed with the company.

“There is no point in clashing between the community and the company, supervising and supervising, so that the government in terms of the forestry service can recommend the community for development programs. Because all land belongs to the state and does not belong to our parents,” said Nursedima Parhusip.

Because, the losses, the biggest losses actually occur to the people who are victims, both physically and mentally. The demand for recognition of customary land should be music in a peaceful way between the community, government and companies.

 

 



Because, leadership, all of these mechanisms already have laws that are enforced by the state, and cannot just be recognized by the government.

Nursedima Parhusip added that it is better for the community to understand each other with the government and companies in building the Natumingka village.

“My hope is to the people of Natumingka, it’s better not to let the community clash with NGOs and companies, I’ve been a victim of it, it’s better to just make peace, there’s no point. Because actually the company’s presence in the community is very useful, in helping development, such as roads supporting agriculture and the economy, “said Nursedima Parhusip.

 



Nursedima Parhusip is well known as a community activist who has helped a lot and made changes in her hometown. The principle of this tough woman’s life is very simple, namely making friends with anyone, and always being together for the betterment of society.

Now the agricultural land and plantations of the residents of Dusun II Nagahulambu which are in the concession area of ​​PT. Toba Pulp Lestari, Tbk has become an intercropping program.

The results from plantations such as palm trees, jengkol and others can be harvested by the community and get support from the company. Especially the road construction in the Nagahulambu Hamlet, really helps the community’s economy.

From media searches, through the https://www.devex.com page, Aman and KSPPM were recorded as NGOs/NGOs form Indonesia that received funds from foreign parties. ***

 




[OB1]

#TanahAdat #TPL #Natumingka #InfoBisnis


Referensi

Sejarah TPL

Daftar Perusahaan Pulp

Tentang Eucalyptus

Manfaat Eucalyptus

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *