Indonesia Join LCS Singkirkan Dominasi Dolar AS

  • Whatsapp
mata uang

Indonesia Join LCS Singkirkan Dominasi Dolar AS | OBROLANBISNIS.com — Bank Indonesia (BI) telah menjalin kesepakatan dengan beberapa bank sentral di beberapa negara terkait penggunaan mata uang lokal atau local currency settlement (LCS) dalam transaksi perdagangan dan investasi.

Bacaan Lainnya

 

Negara tersebut antara lain Malaysia, Jepang, Thailand, dan China juga sudah menyepakati hal yang sama untuk meninggalkan dollar AS. Dengan LCS ini maka kedua negara yang bekerja sama bisa mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Sehingga kedua mitra dagang, tidak perlu menukar dolar AS terlebih dahulu jika ingin melakukan transaksi perdagangan dan investasi. Transaksi melalui LCS ini mencakup penggunaan kuotasi nilai tukar secara langsung serta perdagangan antar bank untuk mata uang negara tersebut dan rupiah. Selain itu ada juga sharing informasi dan diskusi secara berkala antar otoritas.

Kesepakatan LCS antara Indonesia dengan Jepang, Thailand dan Malaysia sudah berjalan lebih dulu. Pengusaha cukup banyak yang memanfaatkan hal tersebut. Terbaru adalah dengan China.


China yang merupakan mitra dagang utama Indonesia. Dalam 6 bulan tahun ini, ekspor non migas ke China mencapai US$ 21,2 miliar dan impor US$ 25,2 miliar. Kedua negara telah telah menyelesaikan mekanisme teknis dari pelaksanaan LCS.

“Teknis penunjukan bank sudah selesai, sampai juga mekanisme teknisnya,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Edisi Juli.

Dalam waktu dekat kalangan dunia usaha sudah bisa memanfaatkan fasilitas tersebut. Sehingga tujuan dari adanya LCS bisa tercapai. Pada taklimat media tanggal 25 Juni 2021, Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI, Donny Hutabarat mengatakan, Indonesia salah satu negara yang cukup aktif dan bisa menjadi leadership local currency secara regional.

“Perkembangan LCS perlu sosialisasi, internalisasi dan perlu melakukan pendekatan lagi kepada orang yang sangat senang menggunakan dollar. Agar mereka bisa beralih,” jelas Donny. Bahkan ke depan, kata Donny, terdapat 3 negara yang akan dijajaki untuk melakukan kerjasama LCS yaitu India, Korea Selatan dan Filipina.


INFO BISNIS 

 

Sejauh ini Indonesia sudah menjalankan LCS dengan Malaysia, Thailand, dan Jepang mencapai US$ 117,3 juta rata-rata setiap bulannya atau setara dengan Rp 1,68 triliun (kurs Rp 14.400/US$). Indonesia juga sudah sepakat dengan China dan akan diimplementasikan pada bulan ini.

“Pada awal Agustus 2021, terdapat penyempurnaan aturan untuk LCS Indonesia-Malaysia dan LCS Indonesia Jepang, serta implementasi LCS Indonesia-Tiongkok,” jelas Donny, Rabu 3 Agustus 2021.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan ekonomi Indonesia sangat rentan akan pergerakan nilai tukar. Contoh saja dalam beberapa tahun terakhir, ketika ekonomi tumbuh tinggi, maka kebutuhan impor melonjak seiring belum bisa disediakannya bahan baku di dalam negeri.



Lonjakan impor memaksa peningkatan kebutuhan dolar oleh kalangan dunia usaha. Itu belum termasuk bila di saat yang sama ada impor minyak oleh PT Pertamina persero dan kewajiban pembayaran utang oleh pemerintah.

“Inisiasi dari BI (Bank Indonesia) mendorong LCS ini untuk mengurangi ketergantungan dolar,” ungkap Josua kepada CNBC Indonesia. ***



Google Translate

 

Indonesia Joins LCS Get Rid of US Dollar Domination | OBROLANBISNIS.com — Bank Indonesia (BI) has entered into agreements with several central banks in several countries regarding the use of local currency or local currency settlement (LCS) in trade and investment transactions.

These countries, including Malaysia, Japan, Thailand, and China, have also agreed on the same thing to leave the US dollar. With this LCS, the two countries that work together can reduce dependence on the United States (US) dollar.

So that the two trading partners do not need to exchange US dollars first if they want to carry out trade and investment transactions. Transactions through this LCS include the use of direct exchange rate quotes as well as interbank trading for the country’s currency and rupiah. In addition, there is also information sharing and regular discussions between authorities.

The LCS agreement between Indonesia and Japan, Thailand and Malaysia has already been implemented. There are many entrepreneurs who take advantage of this. The latest is with China.



China is Indonesia’s main trading partner. In 6 months of this year, non-oil exports to China reached US$ 21.2 billion and imports US$ 25.2 billion. Both countries have completed the technical mechanism for implementing the SCS.

“The technical appointment of the bank has been completed, as well as the technical mechanism,” said BI Governor Perry Warjiyo in a press conference to announce the results of the July Edition of the Board of Governors’ Meeting (RDG).

In the near future, the business world will be able to take advantage of these facilities. So that the purpose of the LCS can be achieved. At a media briefing on June 25, 2021, the Head of the BI Financial Market Development Department, Donny Hutabarat said, Indonesia is one of the countries that is quite active and can become a regional currency leader.

“The development of LCS needs to be socialized, internalized and needs to be approached again to people who are very happy to use dollars. So that they can switch,” explained Donny. Even in the future, said Donny, there are 3 countries that will be explored for LCS cooperation, namely India, South Korea and the Philippines.


So far, Indonesia has run the LCS with Malaysia, Thailand, and Japan reaching US$ 117.3 million on average every month or equivalent to Rp 1.68 trillion (exchange rate of Rp. 14,400/US$). Indonesia has also agreed with China and it will be implemented this month.

“In early August 2021, there will be improvements to the rules for the Indonesia-Malaysia LCS and Indonesia-Japan LCS, as well as the implementation of the Indonesia-China LCS,” said Donny, Wednesday, August 3, 2021.

Bank Permata economist, Josua Pardede said the Indonesian economy is very vulnerable to exchange rate movements. For example, in recent years, when the economy grew high, the need for imports soared as domestic raw materials were not yet available.

The surge in imports forced an increase in the demand for dollars by the business world. That does not include if at the same time there are oil imports by PT Pertamina Persero and debt repayment obligations by the government.



“Initiations from BI (Bank Indonesia) encourage this LCS to reduce dependence on the dollar,” said Josua to CNBC Indonesia. ***



[cnbc/RED-OB]

#MataUang #RupiahIndonesia #InfoBisnis 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *