Ups….Usulan Cukai Rokok Naik di Atas 20 Persen

  • Whatsapp
Ups....Usulan Cukai Rokok Naik di Atas 20 Persen

Ups….Usulan Cukai Rokok Naik di Atas 20 Persen | OBROLANBISNIS.com — Sejumlah pihak mendorong pemerintah untuk menaikkan tarif cukai rokok. Salah satunya adalah Ekonom dan Direktur SDM Universitas Indonesia. Abdillah Ahsan yang meminta kenaikan mencapai di atas 20%.

Bacaan Lainnya

 

Dalam sebuah webinar pekan lalu, dia mengungkapkan kenaikan cukai dengan tarif tinggi diperlukan tujuannya untuk mengurangi prevalensi para perokok saat ini, khususnya kalangan anak di bawa umur.

“Naikkan cukai rokok di atas 20% lalu berlakukan simplifikasi sampai dua golongan, saya yakin Pemerintah Indonesia akan merasakan keuntungannya, baik dari sisi berkurangnya beban ekonomi kesehatan akibat konsumsi rokok, juga dari sisi solusi krisis ekonomi di masa pandemi saat ini,” ujarnya dikutip Selasa, 17 Agustus 2021.



Sementara itu dilihat dari biaya pengobatan yang diakibatkan penyakit karena rokok dilaporkan sangat besar per tahunnya. Berdasarkan penelitian tahun 2019 lalu, rata-rata biayanya mencapai Rp27,7 triliun per tahun.

Biaya tersebut rata-rata ditanggung oleh pemerintah yang diberikan oleh BPJS. Dalam kesempatan yang sama, Chief Strategist of Center for Indonesia Strategi Development Initiatives (CISDI), dr. Yurdhina Meilissa mengungkapkan biaya pengobatan tersebut ditanggung BPJS Kesehatan lebih dari 50%.

Jumlah itu tak sebanding dengan alokasi penerimaan Cukai Hasil Tembakau (CHT) ke biaya kesehatan lewat Dana Bagi Hasil dan sebagainya. Jumlah itu hanya sekitar Rp7,4 triliun per tahun.



INFO BISNIS 

“Artinya beban keluar tiga kali lipat dibandingkan yang dialokasikan,” kata Yurdhina.

Permintaan kenaikan biaya cukai juga diungkapkan oleh Plt Dirjen Kesehatan Masyarakat Kartini Rustandi. Dia mengatakan perlu dilakukan pengendalian konsumsi rokok dan itu tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah saja namun juga masyarakat.

“Salah satu upaya dengan peningkatan cukai dan pemanfaatan cukai,” ungkapnya. Hal yang sama diungkapkan Peneliti Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI), Risky Kusuma Hartono.



Menurutnya, mengutip survey yang dilakukan lembaga tersebut, salah satu kunci menurunkan konsumsi rokok dengan menaikkan tarif cukai tersebut. Hal tersebut khususnya bagi anak-anak yang bisa dengan mudah mendapatkan rokok dengan harga terjangkau.

“Kenaikan harga rokok adalah kunci pengendalian rokok pada anak. Serta juga mendorong pihak sekolah melakukan pengawasan kepada anak-anak agar tidak merokok dan melarang iklan,” tandasnya. ***



Google Translate

Oops…. Proposed Cigarette Excise Increase Above 20 Percent | OBROLANBISNIS.com — A number of parties are pushing the government to increase cigarette excise rates. One of them is the Economist and Director of Human Resources at the University of Indonesia. Abdillah Ahsan who asked for an increase of more than 20%.

In a webinar last week, he revealed that the increase in excise duties with high tariffs was needed to reduce the current prevalence of smokers, especially among minors.

“Increasing cigarette excise above 20% and then implementing simplification to two groups, I believe the Indonesian government will feel the benefits, both in terms of reducing the health economic burden due to cigarette consumption, as well as in terms of solutions to the economic crisis during the current pandemic,” he was quoted as saying on Tuesday. , August 17, 2021.



Meanwhile, it is seen from the medical costs caused by diseases caused by cigarettes, which are reported to be very large per year. Based on research in 2019, the average cost reached IDR 27.7 trillion per year.

On average, these costs are borne by the government provided by BPJS. On the same occasion, Chief Strategist of the Center for Indonesia Strategy Development Initiatives (CISDI), dr. Yurdhina Meilissa revealed that more than 50% of the medical expenses were borne by BPJS Kesehatan.

This amount is not proportional to the allocation of tobacco products excise (CHT) revenue to health costs through the Revenue Sharing Fund and so on. The amount is only around Rp. 7.4 trillion per year.



“This means that the outgoing burden is three times the allocated one,” said Yurdhina.

The request for an increase in excise fees was also expressed by the Acting Director General of Public Health Kartini Rustandi. He said it was necessary to control cigarette consumption and it could not only be done by the government but also the community.

“One of the efforts is to increase excise duty and use excise,” he said. The same thing was expressed by a researcher at the Center for Social Security Studies at the University of Indonesia (PKJS-UI), Risky Kusuma Hartono.



According to him, citing a survey conducted by the agency, one of the keys to reducing cigarette consumption is to increase the excise rate. This is especially true for children who can easily get cigarettes at affordable prices.

“The increase in cigarette prices is the key to controlling cigarettes in children. It also encourages schools to supervise children so they don’t smoke and prohibit advertising,” he said. ***



[cnbc/RED-OB]

#Kesehatan

#BPJS

#InfoBisnis 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *