Mau Tahu Perbedaan Saham & Kripto? Klik Aja di Sini

  • Whatsapp
riset pasar crypto

Mau Tahu Perbedaan Saham & Kripto? Klik Aja di Sini | OBROLANBISNIS.com Beragam investasi kini jadi pilihan untuk meraup keuntungan. Dan akses digital sangat mempermudah para pemain saham. Nah, saat ini yang lagi trending investasi aset kripto, seperti bitcoin yang cukup tinggi di awal 2021. Akibatnya, hal ini membuat banyak orang menganggap aset kripto serupa dengan saham. Padahal keduanya sangat berbeda. Perbedaan keduanya akan diulas di OBROLANBISNIS.com.

Bacaan Lainnya

1. Tipe Aset
Saham tetap bergerak di suatu perusahaan melalui bursa efek. Seberapa baik kinerja perusahaan akan menentukan nilai saham yang dimiliki. Perusahaan yang sudah go public dapat menerbitkan saham kapan saja untuk mengumpulkan modal yang dibutuhkan untuk mengembangkan usahanya.

Sementara itu, membeli kripto, baik itu koin atau token, aset yang dimiliki tidak selalu mewakili kepemilikan sebagian dari perusahaan atau proyek yang mengeluarkannya. Bahkan, koin dan token kripto juga memiliki fungsi yang berbeda-beda. Koin adalah aset asli suatu blockchain yang biasanya digunakan sebagai medium pembayaran. Sedangkan token memiliki banyak sekali klasifikasi, mulai dari utility token yang berfungsi untuk memberikan akses ke servis protokol tertentu, hingga governance token yang digunakan untuk menandakan dukungan untuk perubahan yang diusulkan terhadap suatu protokol. Pada beberapa aset kripto, koin atau token memiliki jumlah yang terbatas, untuk memastikan nilainya tetap meningkat seiring dengan terus bertumbuhnya permintaan untuk aset tersebut.



2. Aspek fundamental
Saat baru memasuki dunia kripto, kamu pasti sering mendengar pertanyaan seputar aspek fundamental yang dapat diukur sebelum mulai investasi atau trading aset kripto. Akan tetapi, analisis fundamental pada aset kripto sangat berbeda dibanding saham.

Analisis fundamental pada bursa saham melibatkan data apa pun yang diharapkan berdampak pada harga atau nilai dari suatu saham. Sedangkan analisis fundamental pada aset kripto dilakukan dengan mempertimbangkan aspek-aspek seperti dasar kegunaan aset kripto tersebut, berapa banyak orang yang menggunakannya dan juga tim di balik pembuatan aset tersebut. Contohnya, membeli ether (ETH), koin native yang digunakan untuk memfasilitasi transaksi di dalam ekosistem blockchain Ethereum. Hal mendasar yang perlu diketahui tentang ether adalah untuk setiap transaksi yang dijalankan di ekosistem Ethereum, ada biaya komputasi (gas fee) yang harus dibayarkan kepada miner yang melakukan komputasi transaksi tersebut. Biaya tersebut dibayarkan dengan ether.

3. Volatilitas
Nah, volatilitas yang menjadi pembeda terbesar antara saham dengan crypto. Saham, terutama di Indonesia, memiliki mekanisme pembatasan volatilitas saat pasar tidak terkendali seperti lewat auto rejection atas dan bawah sampai trading halt, yakni penghentian sementara perdagangan. Artinya, volatilitas bisa lebih terjaga jika ada penurunan atau kenaikan drastis.Untuk aset crypto tidak memiliki pengendalilan volatilitas tersebut. Jadi, harga aset crypto bakal bergerak sesuai dengan supply and demand. Hal itu yang membuat aset crypto bisa naik tinggi atau turun drastis.

4. Satuan Transaksi
Jika transaksi saham di Indonesia, trader harus melakukan transaksi minimal 1 lot atau 100 lembar. Artinya, kalau harga saham Rp1.000 per saham artinya minimal modal yang dikeluarkan senilai Rp100.000 per lot. Berbeda dengan crypto, memang harga Bitcoin bisa sampai ratusan juta rupiah, Ethereum pun puluhan juta rupiah. Namun, jangan takut, trader modal kecil tetap bisa transaksi dengan membeli pecahan terkecil. Untuk Bitcoin, bisa beli hingga pecahan 8 desimal, yang juga disebut dengan 1 sats.



INFO BISNIS

10 Aset Kripto Paling Cuan dan Diburu

5. Platform Perdagangan
Karakter platform perdagangan saham dengan aset crypto juga berbeda. Untuk saham, trader bisa transaksi dengan menjadi nasabah di sekuritas. Untuk aset crypto, trader bisa melakukan transaksi lewat exchange crypto seperti Pintu. Lalu, untuk penyimpanan crypto, trader atau hodler juga bisa menyimpan di aplikasi wallet seperti Metamask dan lain sebagainya.

6. Koneksi
Dari sisi koneksi, transaksi saham bisa dibatasi dalam bursa di satu negara. Misalnya, trader asing mau coba beli saham di Indonesia harus menyesuaikan dengan aturan di Indonesia seperti, membuat akun sekuritas di dalam negeri. Untuk aset crypto, koneksinya tidak terbatas antar negara. Artinya, jumlah trader yang bisa melakukan transaksi juga lebih banyak.

7. Biaya Transaksi 
Biaya untuk melakukan jual beli saham di bursa relatif tinggi. Pialang saham membebankan biaya atau komisi, bank menagih investor saat melakukan pembayaran dan keuntungan modal dikenakan pajak. Sementara itu di bursa aset crypto, biaya relatif lebih rendah. Biaya bertransaksi di blockchain relatif kecil, karena hanya untuk membayar gas fee atau bayaran untuk miner yang melakukan validasi terhadap transaksi pengguna kripto. Biaya exchange pun relatif lebih rendah dibandingkan bursa saham.

8. Waktu Perdagangan
Pasar saham hanya bekerja penuh waktu Senin sampai Jumat. Berbeda dengan pasar saham, pasar crypto beroperasi 24 jam sehari dan 365 hari dalam setahun. Kamu bisa melihat harga cryptocurrency berubah bahkan saat jam menunjukkan tengah malam pada malam tahun baru.



9. Regulator
Cryptocurrency memang memiliki misi desentralisasi, tetapi ketika ingin beroperasi di sebuah negara tetap harus mengikuti aturan. Indonesia sendiri melegalkan cryptocurrency sebagai komoditas bukan alat pembayaran. Oleh karenanya, cryptocurrency diatur oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Di sisi lain, saham yang termasuk instrumen keuangan diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). ***



Google Translate

Want to Know the Difference Between Stocks & Crypto? Just Click Here | OBROLANBISNIS.com Various investments are now an option for profit. And digital access makes it very easy for stock players. Well, currently the trending investment in crypto assets, such as bitcoin, is quite high in early 2021. As a result, this makes many people consider crypto assets to be similar to stocks. Though the two are very different. The difference between the two will be reviewed at OBROLANBISNIS.com.

1. Asset Type
Fixed stock moves in a company through the stock exchange. How well the company’s performance will determine the value of the shares owned. Companies that have gone public can issue shares at any time to raise the capital needed to expand their business.

Meanwhile, buying crypto, be it coins or tokens, the assets held do not necessarily represent partial ownership of the company or project that issued them. In fact, crypto coins and tokens also have different functions. Coins are the original assets of a blockchain that are usually used as a medium of payment.



While tokens have various classifications, ranging from utility tokens that function to provide access to certain protocol services, to governance tokens that are used to signify support for proposed changes to a protocol. In some crypto assets, coins or tokens have a limited amount, to ensure that their value continues to increase as the demand for the asset continues to grow.

2. Fundamental aspects
When you are new to the crypto world, you will often hear questions about fundamental aspects that can be measured before starting to invest or trade crypto assets. However, the fundamental analysis of crypto assets is very different from that of stocks.

Fundamental analysis on the stock market involves any data that is expected to have an impact on the price or value of a stock. While fundamental analysis on crypto assets is carried out by considering aspects such as the basic use of the crypto asset, how many people use it and also the team behind the creation of the asset. For example, buying ether (ETH), a native coin used to facilitate transactions within the Ethereum blockchain ecosystem. The basic thing to know about ether is that for every transaction executed in the Ethereum ecosystem, there is a gas fee that must be paid to the miner who computes the transaction. The fee is paid in ether.

3. Volatility
Well, volatility is the biggest differentiator between stocks and crypto. Stocks, especially in Indonesia, have a volatility limitation mechanism when the market is out of control, such as through auto rejection up and down to trading halts, namely the temporary suspension of trading. This means that volatility can be more maintained if there is a drastic decrease or increase. For crypto assets, there is no volatility control. So, the price of crypto assets will move according to supply and demand. That’s what makes crypto assets can go up or down drastically.



4. Transaction Unit
If stock transactions are in Indonesia, traders must make a minimum transaction of 1 lot or 100 shares. That is, if the share price is Rp. 1,000 per share, it means that the minimum issued capital is Rp. 100,000 per lot. Unlike crypto, the price of Bitcoin can be up to hundreds of millions of rupiah, Ethereum is tens of millions of rupiah. However, don’t be afraid, small capital traders can still trade by buying the smallest fraction. For Bitcoin, you can buy up to 8 decimal fractions, which is also called 1 sats.

5. Trading Platforms
The character of stock trading platforms with crypto assets is also different. For stocks, traders can trade by becoming customers in securities. For crypto assets, traders can make transactions via crypto exchanges such as Pintu. Then, for crypto storage, traders or traders can also save in wallet applications such as Metamask and so on.

6. Connection
From the connection point of view, stock transactions can be limited to exchanges in one country. For example, a foreign trader who wants to try to buy shares in Indonesia must comply with the rules in Indonesia, such as creating a securities account in the country. For crypto assets, the connection is not limited between countries. That is, the number of traders who can make transactions is also more.

7. Transaction fees
The cost of buying and selling shares on the stock exchange is relatively high. Stockbrokers charge a fee or commission, banks charge investors when making payments and capital gains are taxed. Meanwhile on crypto asset exchanges, fees are relatively lower. The cost of transacting on the blockchain is relatively small, because it is only to pay gas fees or fees for miners who validate crypto user transactions. Exchange fees are also relatively lower than stock exchanges.



8. Trading Time
The stock market only works full time Monday through Friday. Unlike the stock market, the crypto market operates 24 hours a day and 365 days a year. You can see cryptocurrency prices change even when the clock strikes midnight on New Year’s Eve.

9. Regulators
Cryptocurrencies do have a decentralized mission, but when you want to operate in a country you still have to follow the rules. Indonesia itself has legalized cryptocurrency as a commodity, not a means of payment. Therefore, cryptocurrencies are regulated by the Commodity Futures Trading Regulatory Agency (CoFTRA). On the other hand, shares which are included in financial instruments are regulated by the Financial Services Authority (OJK). ***



[nt/RED-OB]

#Saham

#KriptoBitcoin

#InfoBisnis 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *