PT Pupuk Indonesia Menjawab Kelangkaan Pupuk Subdisi | Inilah Penjelasan yang Perlu Diketahui Petani

PT Pupuk Indonesia Menjawab Kelangkaan Pupuk Subdisi | Inilah Penjelasan yang Perlu Diketahui Petani

PT Pupuk Indonesia Menjawab Kelangkaan Pupuk Subdisi | Inilah Penjelasan yang Perlu Diketahui Petani | OBROLANBISNIS.com — PT Pupuk Indonesia (Persero) PSO Wilayah Barat angkat bicara menjawab isu-isu kelangkaan pupuk subsidi yang terjadi di wilayah Sumatera Utara (Sumut) hingga Aceh yang masuk dalam zona Sumbagut Sumatera Bagian Utara).

SPV PSO Wilayah Barat PT Pupuk Indonesia (Persero), Agus Susanto memperoleh kabar di lapangan terjadi gejolak terkait pupuk subsidi yang mengalami kelangkaan.

BISNIS HARI INI: Nyaman Tanpa Kedinginan Dengan Samsung AC WindFree™ Lite

Kepada awak media, Agus Susanto mengkalim bahwa yang sebenarnya terjadi adalah bukan terjadi kelangkaan pupuk subsidi, melainkan alokasi kouta pupuk subsidi seperti Urea dan NPK yang diberikan pemerintah sudah tidak tersedia lagi.

“Yang perlu diketahui bahwa secara nasional alokasi pupuk subsidi terbatas sesuai anggaran yang diberikan pemerintah, sementara kebutuhan atau usulan petani tahun 2022 yang cukup tinggi sekitar 25 juta ton. Sementara pemerintah hanya memberikan kouta pupuk subsidi sebanyak 9,1 juta ton. Inilah yang perlu diketahui petani dan masyarakat. Faktor itu bukan lah kelangkaan tetapi melainkan kekurangan kebutuhan pupuk subsidi kepada petani,” beber Agus Susanto kepada awak media dalam Media Gathering PSO Wilayah Barat bertemakan ‘Sinergi Membangun Negeri’, Jumat, 23 Desember 2022.

Agus Susanto menerangkan, PT Pupuk Indonesia sebagai produsen pupuk dan pemasaran urea, NPK dan berbagai jenis pupuk, memiliki 5 anak perusahaan sebagai Group Pupuk Indonesia, yakni Pupuk Kaltim, Petrokimia Gresik, Pupuk Sriwidjaja Palembang, PT Pupuk Kujang dan PT Pupuk Iskandar Muda.

“Dalam menyalurkan pupuk bersubsidi, kami tidak hanya mengikuti aturan dalam Peraturan Menteri Pertanian, namun juga Peraturan Menteri Perdagangan. Di mana kami diwajibkan untuk menyiapkan stok pupuk subsidi dalam gudang,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

BISNIS HARI INI: Undian Akhir Tahun Telkomsel Hadirkan Poin Festival Lucky Draw 2022

PT Pupuk Indonesia memproduksi dan memasarkan dua jenis pupuk subsidi, yakni Urea dan NPK kepada petani-petani Indonesia. Sementara, komoditas tanaman yang dibolehkan menggunakan pupuk subsidi telah dikurangi dari 70 jenis komoditas menjadi 9 komoditas, yakni padi, jagung, kedelai, tebu, kakao, kopi, cabai merah, bawang dan bawang putih.

Menurut Agus, sampai dengan 22 Desember 2022, PT Pupuk Indonesia telah menyalurkan pupuk bersubsidi jenis Urea di Sumut sebanyak 159.131 ton atau sekitar 94% dari alokasi setahun sebesar 168.487 ton. Sedangkan untuk pupuk NPK sudah tersalur sebanyak 122.644 ton atau 97% dari alokasi 126.693 ton.

Untuk stok yang tersedia saat ini di gudang lini 2 yang ada di Medan, sebut Agus, untuk Urea sebanyak 18.154 ton, sedangkan NPK sebanyak 15.180 ton. “Stok itu tidak bisa dikeluarkan tanpa ada persetujuan dari pemerintah,” cetusnya.

 

PT Pupuk Indonesia Menjawab Kelangkaan Pupuk Subdisi | Inilah Penjelasan yang Perlu Diketahui Petani-

BISNIS HARI INI: 5 Kiat Jitu Bakir Pasaman Wujudkan Transformasi Pupuk Indonesia

Selama ini, ungkap Agus didampingi Wawan Arjuna selaku VP Penjualan Wilayah I Sumbagut, pasokan pupuk subsidi untuk wilayah Sumut berasal dari Petrokimia Gresik dan PT Pupuk Iskandar Muda melalui jalur kapal dan darat.

Agus mengklaim bahwa stok pupuk subsidi yang tersedia secara nasional khususnya Sumatera Utara, untuk kebutuhan penyaluran pupuk subsidi di tahun 2023 masih tercukupi. ***


google translate


PT Pupuk Indonesia Responds to the Scarcity of Subdition Fertilizers | This is the Explanation that Farmers Need to Know | OBROLANBISNIS.com — PT Pupuk Indonesia (Persero) PSO West Region spoke up to answer the issues of a scarcity of subsidized fertilizers that occurred in the North Sumatra (North Sumatra) to Aceh region which is included in the North Sumatran Sumbagut zone).

PT Pupuk Indonesia (Persero) West Region SPV PSO, Agus Susanto, received news in the field that there had been turmoil regarding the shortage of subsidized fertilizer.

To the media crew, Agus Susanto claimed that what actually happened was not a scarcity of subsidized fertilizers, but the allocation of quotas for subsidized fertilizers such as Urea and NPK provided by the government were no longer available.

“What needs to be known is that nationally the allocation of subsidized fertilizers is limited according to the budget provided by the government, while the needs or proposals of farmers in 2022 are quite high around 25 million tons. Meanwhile the government only provides subsidized fertilizer quotas of 9.1 million tons. This is what needs to be known. farmers and the community. This factor is not scarcity but rather a lack of need for subsidized fertilizers for farmers,” explained Agus Susanto to the media crew at the PSO Western Region Media Gathering with the theme ‘Synergy to Build the Nation’, Friday, December 23, 2022.

Agus Susanto explained, PT Pupuk Indonesia as a fertilizer producer and marketing of urea, NPK and various types of fertilizer, has 5 subsidiaries as the Indonesian Pupuk Group, namely Pupuk Kaltim, Petrokimia Gresik, Pupuk Sriwidjaja Palembang, PT Pupuk Kujang and PT Pupuk Iskandar Muda.

 

 



“In distributing subsidized fertilizer, we do not only follow the rules in the Minister of Agriculture Regulation, but also the Regulation of the Minister of Trade. Where we are required to prepare subsidized fertilizer stocks in warehouses,” he said.

PT Pupuk Indonesia produces and markets two types of subsidized fertilizers, namely Urea and NPK to Indonesian farmers. Meanwhile, crop commodities that are allowed to use subsidized fertilizers have been reduced from 70 types of commodities to 9 commodities, namely rice, corn, soybeans, sugarcane, cocoa, coffee, red chilies, onions and garlic.

According to Agus, as of December 22, 2022, PT Pupuk Indonesia had distributed 159,131 tons of subsidized Urea fertilizer in North Sumatra, or around 94% of the annual allocation of 168,487 tons. As for NPK fertilizer, 122,644 tons or 97% of the allocated 126,693 tons have been distributed.

For the stock currently available at the line 2 warehouse in Medan, Agus said, Urea is 18,154 tons, while NPK is 15,180 tons. “The stock cannot be issued without approval from the government,” he said.

So far, said Agus accompanied by Wawan Arjuna as VP of Sales for Region I of Sumbagut, the supply of subsidized fertilizers for the North Sumatra region has come from Petrokimia Gresik and PT Pupuk Iskandar Muda via ship and land routes.

Agus claims that the stock of subsidized fertilizers available nationally, especially North Sumatra, for the need for distribution of subsidized fertilizers in 2023 is still sufficient. ***

 

 


[OB1]

#Pupuk
#Subsidi
#InfoBisnis

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *