Isi Konten
- 18 Tahun Bermitra dengan TPL : Hidup Mulai Sejahtera dan Anak Bisa Bersekolah
- TPL Buka Kerjasama Kemitraan
- Memperkerjakan Puluhan Orang Pekerja/Buruh
- Masih Banyak Orang yang Bergantung dengan TPL

18 Tahun Bermitra dengan TPL : Hidup Mulai Sejahtera dan Anak Bisa Bersekolah
OBROLANBISNIS.com — Tak terasa sudah 18 tahun, Ronald Napitupulu menggantungkan hidup keluarganya di PT Toba Pulp Lestari (TPL), Tbk.
Ronald, sapaan akrabnya, bukanlah karyawan tetap di perusahaan TPL, melainkan hanya sebagai mitra kerja, yang mencari rejeki dan nafkah keluarganya.
REKOMENDASI: Promo Spesial Telkomsel : Merdeka Nonton
Pria berdarah Batak ini mengaku, menjadi bagian dari mitra TPL sejak tahun 2007. Awalnya ia hanya sebagai supir truk, pekerja hari lepas.
Hanya keahlian mengendarai kendaraan bermotor yang hanya dimilikinya saat itu. Setiap harinya pria kelahiran 1982, dengan truk yang dikendarainya mengantarkan muatan manusia yang tak lain buruh lepas, ke lokasi konsesi perusahaan TPL di wilayah Nagori Bosar Nauli, Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun.
TPL Buka Kerjasama Kemitraan
Seiring perjalanan waktu, ia mendapat informasi bahwa TPL membuka kerjasama kemitraan di bidang penyediaan tenaga kerja atau menpower. Kesempatan itulah yang membawa perubahan hidup bagi Ronald Napitupulu.
REKOMENDASI: Samsung SmartThings: Satu Aplikasi, Sejuta Kemudahan Hidup
Dengan tekad kuat dan ambisi besar, Ronald Napitupulu yang hanya tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merayu orangtuanya untuk bergabung menjadi mitra TPL.
Melihat semangat Ronald, orangtuanya pun mewujudkan permintaannya, dengan menggelontorkan uang membuka Usaha Dagang bernama UD Ronald Jaya.
”Butuh waktu sebulan untuk membujuk bapak Napitupulu saat itu. Syukurnya karena tekad kuat itu orangtuapun akhirnya memberikan modal usaha membuka UD Ronald Jaya,” cerita Ronald yang saat muda bercita-cita menjadi Polisi, Jumat, 29 Agustus 2025.
REKOMENDASI: Suzuki Investasi Rp128 Triliun, Genjot Produksi Mobil Listrik di India
Kesepakatan kerjasama mitra TPL, ia dapatkan. Peluang itu tidak disia-siakannya. Seluruh tenaga dan pikiran ia korbankan, agar bisa bekerja maksimal untuk TPL.
Memperkerjakan Puluhan Orang Pekerja/Buruh
Mulanya hanya belasan orang tenaga kerja yang disuplay untuk perusahaan, kini Ronald Napitupulu telah mampu mentransfer puluhan buruh/pekerja untuk mencari rejeki di TPL.
Perubahan status badan hukum usaha dari UD Ronald Jaya ke PT Ronald Jaya Mandiri terpaksa ia lakukan, sesuai dengan kebijakan dari perusahaan TPL.
Selain sebagai penyalur tenaga kerja, PT Ronald Jaya Mandiri juga mendapat tambahan kerja merentalkan alat transportasi jenis truk. Namun, Ronald baru memiliki satu truk saja untuk mengangkut bibit-bibit tanaman Eucalyptus maupun sebagai transportasi mengantarkan para pekerja ke lapangan.
REKOMENDASI: Pemerintah Memperpanjang Diskon Pajak Rumah Sampai Akhir 2025
”Selama bermitra dengan TPL, kehidupan keluarga saya membaik, anak-anak bisa bersekolah dan juga pekerja-pekerja saya mulai hidup sejahtera, karena setiap bulannya memperoleh pendapatan yang lumayan hasil bekerja dengan TPL,” sebut ayah tiga anak ini.
Masih Banyak Orang yang Bergantung dengan TPL
Ronald Napitupulu tidak habis pikir dengan rumor dan isu-isu negatif yang menimpa perusahaan TPL. Seperti isu penutupan TPL oleh oknum-oknum LSM dan tokoh agama di bumi Tapanuli.
Padahal, bagi suami dari Minar Br Sinaga, keberadaan TPL sangat lah menguntungkan bagi masyarakat sekitar perusahaan. “Lapangan kerja ada dan terbuka lebar bagi masyarakat yang berdampingan dengan TPL,” ucap anak ketiga dari lima bersaudara ini.
REKOMENDASI: Letkol Kav Prima Wahyudi PSC (j) GDDSS Jabat Komandan Yonkav 4/KC Kota Bandung
Ronald Napitupulu sangat kecewa mendengar rumor negatif soal TPL yang terus berkelanjutan. “Masih banyak orang yang masih menggantung hidupnya di TPL. Kalau tutup, mau kemana lah manusia-manusia yang ada di sekitar TPL? Bakal banyak pengangguran, siapa yang mau bertanggungjawab dengan kehidupan pekerja atau buruh di TPL?” beber Ronald yang pernah merantau mencari nafkah di ibukota Jakarta pada era 1999 sampai 2004.
Ia bersama pekerjanya berharap, jangan lah isu-isu yang tak benar soal TPL diedarkan ke publik. “Jika perusahaan itu bersalah, kan ada pemerintah. Biar lah pemerintah yang turun dan menengahi persoal-persoalan yang berkaitan dengan perusahaan,” tanggap Ronald.
Ia bersama dengan puluhan pekerja borongan dan harian hanya ingin perusahaan TPL tetap berjalan dan beroperasional. “Kami masih butuh TPL, karena nasib keluarga kami bergantung dengan keberadaan TPL, untuk mencari nafkah hidup,” cetus Ronald Napitupulu. ***
[OB1]





















