Pengusaha Baja Hadapi Kebijakan CBAM Eropa 2026  Investasi Teknologi Hijau 

Isi Konten:

 

  • Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
  • Sertifikasi Ecolabel dan Environmental Product Declaration

 

Bacaan Lainnya

 

Pengusaha Baja Hadapi Kebijakan CBAM Eropa 2026  Investasi Teknologi Hijau

 

OBROLANBISNIS.com — Pelaku industri baja nasional tengah bersiap menghadapi rencana penerapan kebijakan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) oleh Uni Eropa pada tahun depan.

Investasi Teknologi Ramah Lingkungan

Dilansir dalam laman Bisnis.com, upaya utama yang dilakukan yakni produksi baja rendah emisi atau green steel.

Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) adalah kebijakan Uni Eropa yang mengenakan tarif karbon pada impor barang padat karbon untuk mencegah kebocoran karbon dan memastikan persaingan adil antara produk domestik dan impor.

CBAM berfungsi sebagai pungutan yang mencerminkan harga pasar karbon UE, di mana importir harus membeli sertifikat CBAM berdasarkan emisi GRK barang impor. Ini bagian dari European Green Deal untuk mencapai netralitas iklim pada 2050.

Kebijakan penambahan tarif pada produk impor beremisi tinggi itu dapat menekan kinerja industri. Terlebih, ekspor ke Uni Eropa berkontribusi sekitar 12% dari total volume dan 6% dari total nilai ekspor nasional.

Direktur Eksekutif The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan untuk menghadapi kebijakan tersebut beberapa perusahaan anggota IISIA telah lebih dahulu berinvestasi dalam teknologi ramah lingkungan.

Perusahaan anggota IISIA mengoperasikan pabrik berbasis Electric Arc Furnace (EAF), dengan bahan baku baja scrap baja dan energi listrik. “[bahan bakunya] Bukan batubara atau kokas seperti pada blast furnace,” kata Harry Minggu (2/11/2025).

Teknologi EAF berbasis scrap menghasilkan emisi karbon jauh lebih rendah, hanya sekitar 0,4 ton CO₂ per ton baja, dibandingkan proses konvensional yang masih mengandalkan batubara.

Beberapa perusahaan besar anggota IISIA seperti PT Krakatau Posco, PT Gunung Raja Paksi Tbk., dan PT Tata Metal Lestari diketahui aktif menjalankan berbagai inisiatif dekarbonisasi.

Misalnya, PT Krakatau Posco kini tengah mengkaji penerapan proses hydrogen-based steelmaking atau HyRex, yang menjadi salah satu teknologi masa depan untuk mencapai net zero emission (NZE).

Sertifikasi Ecolabel dan Environmental Product Declaration

Tak hanya itu, upaya lain yang dilakukan yakni pemasangan PLTS atap di area pabrik dan kantor, optimalisasi gas hasil samping dan panas buangan, serta sertifikasi ecolabel dan Environmental Product Declaration (EPD) untuk memperkuat komitmen terhadap prinsip keberlanjutan.

Meski begitu, IISIA menilai percepatan transformasi industri baja nasional menuju produksi green steel memerlukan dukungan konkret dari seluruh pemangku kepentingan.

Dukungan tersebut antara lain berupa kemudahan impor scrap sebagai bahan baku ramah lingkungan, akses energi terbarukan, serta kebijakan green procurement dari sektor publik maupun swasta.

Selain itu, pihaknya juga menekankan pentingnya dukungan finansial untuk adopsi teknologi rendah karbon serta perlindungan pasar domestik selama masa transisi.

“Adopsi NZE untuk industri baja nasional memerlukan dukungan seluruh stakeholder agar tercipta persaingan yang adil dengan produk baja impor dan tidak terjadi kebocoran karbon,” terangnya.

Langkah-langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi industri baja Indonesia di pasar global, sekaligus memastikan bahwa transisi menuju ekonomi hijau tidak justru melemahkan daya saing pelaku industri di dalam negeri.

(Bc/May)

 

Pos terkait