Tambang Bawah Tanah Milik Freeport Belum Diizinkan Beroperasi

Tambang Bawah Tanah Milik Freeport Belum Diizinkan Beroperasi
Isi Konten
  • Tambang Bawah Tanah Milik Freeport Belum Diizinkan Beroperasi
  • Evaluasi Tambang Bawah Tanah Telah Selesai
  • Kementerian ESDM Kaji Operasional Tambang Bawah Tanah


Tambang Bawah Tanah Milik Freeport Belum Diizinkan Beroperasi

OBROLANBISNIS.com — Pascalongsor, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hingga kini belum memberikan izin bagi PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk melanjutkan aktivitas tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) di Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Pemerintah telah melakukan evaluasi longsor di tambang bawah tanah milik Freeport. Namun, hingga kini area tersebut masih belum diizinkan untuk dioperasikan kembali.

REKOMENDASI: Bergelar Orang Terkaya di Dunia, Begini Respon Elon Musk


Evaluasi Tambang Bawah Tanah Telah Selesai


Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno menyebut, meski evaluasi telah rampung, PT Freeport Indonesia (PTFI) belum memungkinkan untuk melakukan operasional kembali di tambang tersebut.

“Evaluasi untuk Freeport yang longsor sampai sekarang sudah sebetulnya, tapi untuk terkait dengan penyelesaiannya kan makanya dia nggak bisa nambang di situ kan sampai saat ini. Nggak memungkinkan untuk nambang,” ungkap Tri di Jakarta, Selasa, 6 Januari 2026.


Kementerian ESDM Kaji Operasional Tambang Bawah Tanah


Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan pihaknya masih mengkaji operasional tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia (PTFI), terutama selepas terjadinya insiden longsor di area tambang Grasberg Block Cave (GBC) pada September 2025 lalu.

REKOMENDASI: Sekolah Gratis di Kepulauan Nias dan Daerah Terdampak Bencana Dimulai

Kajian ini sekaligus menjadi dasar dalam menilai rencana PTFI untuk kembali membuka operasi di dua area lain yang tidak terdampak, yakni Big Gossan dan Deep Mill Level Zone (DMLZ).

Bahlil berpendapat, struktur tambang bawah tanah Freeport sangat luas, sehingga setiap keputusan harus dilakukan dengan hati-hati. Setidaknya, terdapat area yang tidak terkait dengan insiden longsor dan saat ini sedang dievaluasi.

Di sisi lain, ia mengakui apabila area tersebut tidak segera beroperasi, maka hal itu juga akan berdampak pada penerimaan negara, keberlangsungan pekerjaan bagi para karyawan, pendapatan daerah, serta kontinuitas pasokan untuk smelter Freeport di Gresik.

REKOMENDASI: Kementerian ESDM Batasi Operasional Perusahaan Pertambangan Hanya 25 %

Pada akhir Oktober 2025, kedua tambang Freeport tersebut, yaitu Big Gossan dan Deep Mill Level Zone (DMLZ) sudah dioperasikan kembali. ***

[cnbc/OB3]

Pos terkait