Emas Tak Lagi Aman : Sejumlah Negara Melepas Cadangan Emasnya

Harga Emas Antam dan UBS Sepekan Ini Meroket
Isi Konten
  • Emas Tak Lagi Aman : Sejumlah Negara Melepas Cadangan Emasnya
  • Bank Sentral Turki Melepas 60 Ton Emas
  • Perang Membutuhkan Uang Tunai Untuk Kebutuhan Darurat


Emas Tak Lagi Aman : Sejumlah Negara Melepas Cadangan Emasnya

OBROLANBISNIS.com — Emas tidak lagi aman. Perang mengubah segalanya. Selama ribuan tahun, satu aturan tidak pernah berubah. Saat dunia sedang kacau, belilah emas.

Tapi kali ini, aturan itu baru saja dilanggar. Perang AS-Iran dimulai pada 28 Februari 2026 membuat dunia panik, semua orang seharusnya lari ke emas.

REKOMENDASI: Indonesia Tutup Jalur Ekspor Minyak Sawit, Dunia Bisa Kiamat?

Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Harga emas mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di 5.602 per troy ounce pada Januari 2026, lalu jatuh hampir 25% ke level 4.100 dalam waktu sebulan.

Ini adalah penurunan terburuk emas dalam 1 bulan sejak tahun 2008. Bukan hanya investor biasa yang menjual; bahkan bank sentral negara-negara besar pun mulai melepas cadangan emas mereka, dan ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah konflik modern.

Bacaan Lainnya


Bank Sentral Turki Melepas 60 Ton Emas


Siapa saja yang menjual? Turki menjadi yang terbesar. Bank Sentral Turki melepas sekitar 60 ton emas senilai lebih dari 8 miliar dolar hanya dalam dua minggu pertama konflik.

Gubernur Bank Sentral Turki mengakui secara terbuka bahwa emas dijual untuk mempertahankan nilai Lira yang terus melemah.

REKOMENDASI: 20.784 Ribu Pekerja Indonesia di Timur Tengah Trauma Psikologis Perang 

Sementara, Rusia telah menjual emas secara konsisten sejak tahun 2025 untuk menutupi defisit anggaran akibat biaya perang yang terus membengkak, dengan total sekitar 2,4 miliar dolar.

Polandia, yang selama 2 tahun terakhir menjadi pembeli emas terbesar di dunia, kini justru mempertimbangkan untuk menjual cadangannya guna membiayai belanja pertahanan.

Sinyal ini saja sudah cukup untuk mengguncang pasar. Dubai, pusat perdagangan emas dunia, emas tertahan di gudang karena penerbangan ditutup dan terpaksa dijual dengan diskon besar di pasar lokal karena tidak bisa dikirim ke luar negeri.

Ada pepatah lama di pasar keuangan. Saat orang khawatir tentang masa depan, mereka membeli emas. Saat mereka khawatir tentang hari ini, mereka menjualnya.

REKOMENDASI: 10 Negara Diambang Kehancuran, Korea Utara Masuk Daftarnya


Perang Membutuhkan Uang Tunai Untuk Kebutuhan Darurat


Perang ini memaksa negara-negara membutuhkan uang tunai sekarang untuk membayar energi, senjata, dan kebutuhan darurat.

Emas adalah aset paling likuid yang dapat dicairkan dengan cepat. Selain itu, harga minyak yang melonjak mendorong inflasi global, dan bank sentral AS cenderung menaikkan suku bunga sebagai respons.

Suku bunga tinggi membuat emas, yang tidak memberikan imbal hasil, menjadi kurang menarik dibandingkan obligasi. Tapi jangan salah paham, ini bukan berarti emas akan kehilangan nilainya selamanya.

Goldman Sachs masih memproyeksikan harga emas akan kembali ke 5.400 dolar pada akhir tahun 2026. JP Morgan bahkan menargetkan 6.300 dolar jika The Fed mulai menurunkan suku bunga.

REKOMENDASI: Di Masa Resesi Jangan Main Saham Gorengan

Tapi untuk saat ini, dunia sedang membuktikan sesuatu yang berbeda. Dalam perang besar, bahkan emas pun tak bisa menyelamatkanmu, jika yang kau butuhkan bukan perlindungan jangka panjang, melainkan uang tunai untuk bertahan hidup hari ini. ***aiOB3

Pos terkait