Bangga Produk Lokal Atau Mati Kelaparan

Bangga Produk Lokal Atau Mati Kelaparan

Bangga Produk Lokal Atau Mati Kelaparan

follow-on-google-news
OBROLANBISNIS.com — Barang impor itu racun paling mematikan buat dompetmu saat jalur logistik dunia lagi tercekik. Kamu harus paham mekanismenya.

Begitu Selat Hormuz memanas, asuransi kapal kargo akan melonjak, dan biaya itu dibebankan ke siapa? Ke kamu, konsumen akhir yang gajinya pas-pasan.

REKOMENDASI: Masa Depan Finansial Ditentukan dari Kebiasaan Kecil

Kalau masih maksa beli perawatan kulit Korea, sepatu kets Amerika, atau buah impor cuma demi konten Instagram, sama aja kamu menyerahkan diri ke jeratan inflasi.

Sadar diri, gaji UMR Jakarta, bukan UMR New York. Buang harga dirimu yang sampah itu ke selokan.

Mulai besok, jangan sampai kaki kamu menginjak mal dingin itu. Biasakan dirimu dengan beceknya pasar tradisional. Di mal, Anda bayar sewa gedung, AC, dan gaji manajer berdasi.

Hah, di pasar subuh, kamu transaksi langsung dengan pedagang kecil, bisa menawar, dan uangmu berputar di ekonomi rakyat, bukan lari ke rekening perusahaan asing.

REKOMENDASI: Pindahkan Uang Mu ke Emas Dinar

Lidahmu juga perlu di-reset pabrik. Gandum itu 100% impor. Roti, pasta, mie instan, kalau kapal pengangkutnya macet, harganya bisa bikin kamu nangis darah. Kembali ke akar.

Tanah Indonesia ini surga makanan, seperti singkong, ubi, jagung, semua berlimpah dan tidak butuh kapal tanker untuk sampai ke piringmu.

Protein, nggak usah sok elit makan daging beku impor. Tempe dan tahu itu makanan super asli sini yang bikin kamu tetap hidup tanpa bikin dompetmu bangkrut.

Pilihannya sederhana sekarang. Mau gaya-gayaan tapi perut kenyang, atau mau beneran mati cuma karena gengsi makan singkong? ***aiOB3

follow-on-google-news

Pos terkait