Sejak Perang Pecah, Portofolio Kripto Memerah : Jual Atau Borong

Sejak Perang Pecah, Portofolio Kripto Memerah Jual Atau Borong
Isi Konten
  • Sejak Perang Pecah, Portofolio Kripto Memerah : Jual Atau Borong
  • Dibalik Penurunan Harga Bitcoin
  • Fokus Pada Data
  • Empat Langkah Untuk Menghadapi Situasi Bitcoin

follow-on-google-news
Sejak Perang Pecah, Portofolio Kripto Memerah : Jual Atau Borong

OBROLANBISNIS.com — Perang pecah, kripto merosot tajam. Reaksi pertama pasti ingin langsung jual semua, kan? Tapi tunggu dulu, apakah itu keputusan yang tepat? Atau justru saatnya borong?

Sejak perang pecah, portofolio kripto semuanya merah, anjlok parah. Otak langsung berteriak, “Jual semua sekarang juga!” Tapi, yakin itu langkah yang tepat?

REKOMENDASI: Paradoks Emas Tahun 2026 : Peluang Atau Jebakan?


Dibalik Penurunan Harga Bitcoin


Mari kita lihat dulu, apa yang sebenarnya terjadi di menit-menit pertama yang sangat dramatis dan membuat panik itu?

Ambil contoh krisis Iran-Israel yang baru-baru ini terjadi. Harga Bitcoin langsung anjlok, turun 6%. Angka segitu sudah cukup bikin deg-degan, kan?

Lebih parahnya lagi, penurunan 6% itu terjadi hanya dalam 45 menit. Inilah yang memicu kebakaran besar di pasar derivatif. Akibatnya, dalam sekejap, posisi long dengan leverage senilai 515 juta dolar hangus dan dilikuidasi paksa.

Inilah penyebab utama di balik penurunan harga yang sangat tajam itu. Ibaratnya, pasar sedang membersihkan diri dari para spekulan.

REKOMENDASI: Uang Hilang Tanpa Pamit, Atur Keuangan Mu

Apakah kepanikan di awal ini benar-benar mencerminkan segalanya? Kalau kita lihat data sejarah, ceritanya beda banget. Polanya konsisten sekali. Baik itu invasi Rusia ke Ukraina, atau serangan dari Iran, polanya hampir selalu sama.

Awalnya anjlok tajam, tapi kemudian pulih dengan sangat cepat. Bahkan dalam 30 hingga 50 hari ke depan, kinerjanya justru positif.

Lihat, waktu kasus Rusia-Ukraina terjadi, sempat turun 9%, eh sebulan kemudian malah naik 27%. Grafik ini menjelaskan tabel sebelumnya dengan cara yang lebih sederhana.

Lihat garis merah yang menunjukkan kepanikan di awal itu. Kecil sekali ya, dibandingkan dengan bar hijau yang menunjukkan kenaikan setelahnya?

REKOMENDASI: Masa Depan Finansial Ditentukan dari Kebiasaan Kecil

Ini bukti kuat bahwa panic selling itu sering kali adalah langkah yang salah. Tapi tunggu dulu, tidak semua berita itu sama. Ada dua jebakan yang harus kalian waspadai: berita tentang pembayaran tebusan menggunakan kripto dan berita tentang gencatan senjata.

Kutipan ini sangat penting. Intinya, pasar sebenarnya tidak terlalu takut kripto digunakan oleh penjahat. Yang paling mereka takutkan adalah jika pemerintah menunjukkan bahwa mereka dapat melakukan intervensi dan menyita aset kripto tersebut.

Nah, itu yang berbahaya bagi narasi utama kripto. Contoh paling jelas adalah kasus Colonial Pipeline. Langkah pertama, tebusan 75 Bitcoin dibayar.

Langkah kedua, FBI berhasil menyita private key-nya. Nah, di sinilah masalahnya. Langkah ketiga, harga langsung anjlok 10%. Kenapa? Karena narasi bahwa kripto tidak bisa disentuh pemerintah langsung hancur berantakan.

REKOMENDASI: Pindahkan Uang Mu ke Emas Dinar

Sekarang jebakan kedua, yaitu gencatan senjata. Di pasar, ada prinsip yang sangat terkenal: beli rumor, jual berita. Apa artinya?

Para paus atau smart money sudah mulai membeli saat situasinya genting, saat rumor masih simpang siur. Begitu ada berita baik, yaitu gencatan senjata resmi, dan semua orang jadi optimis, eh, mereka malah jualan buat cari untung.


Fokus Pada Data


Jadi, bagaimana caranya agar kita tidak terjebak dalam emosi dan berita-berita dramatis seperti itu? Jawabannya sederhana, fokus pada data, bukan drama dari berita utama.

Indikator andalan pertama, RSI. Waktu krisis Iran kemarin, semua orang panik jualan, kan? Kamu tahu nggak RSI Bitcoin waktu itu berapa? Angka 16. Ini adalah sinyal oversold atau kondisi jenuh jual yang sangat ekstrem.

REKOMENDASI: Sebelum Menguras Uang Mu, Pikir-pikir Dulu Dalam Mengambil Keputusan

Sejarah berkata, jika RSI sudah serendah ini, justru saatnya membeli, bukan ikut-ikutan menjual. Ada dua data penting lain yang wajib dipantau. Pertama, arus dana ETF.

Sederhananya, lihat saja apa yang dilakukan institusi-institusi besar. Saat konflik Iran, mereka tetap membeli 1,1 miliar dolar. Artinya, mereka masih percaya.

Kedua, harga minyak. Jika harga minyak melonjak, inflasi bisa naik, dan ini bisa menekan aset berisiko seperti kripto.


Empat Langkah Untuk Menghadapi Situasi Bitcoin


Sekarang, mari kita rangkum menjadi satu strategi cerdas yang bisa langsung kalian gunakan. Nah, inilah kesimpulannya. Kerangka empat langkah untuk menghadapi situasi seperti ini.

REKOMENDASI: Mulailah Kebiasaan Nabung 10 Persen Dari Pendapatan, Hasil Akan Terasa!

Satu, perang pecah, jangan panik. Pantau RSI, siap-siap beli setelah 2-3 hari. Kedua, ada berita tebusan dibayar pakai kripto, lalu disita pemerintah, hati-hati, ini bisa jadi sinyal buruk.

Tiga, gencatan senjata diumumkan, terapkan strategi jual saat berita baik. Kalau sudah untung, jangan serakah, ambil keuntungannya. Dan terakhir yang keempat, selalu konfirmasi semua keputusanmu dengan data makro.

Cek harga minyak dan arus dana ETF. Nah, itulah rencana permainan berdasarkan data. Tapi pasar selalu punya kejutan, kan?

Dari empat strategi tadi, mana yang paling kalian setujui? Atau, mungkin kalian punya trik rahasia lain. ***tokOB3

follow-on-google-news

Pos terkait