Isi Konten:
- Drama Sidang Parlemen: Pergi Sebelum Rapat Selesai
- Rekam Jejak Purbaya: Agresif yang Berujung Rapor Merah
- Suahasil Nazara: Sang Teknokrat Penyelamat Sentimen Pasar
Copot Purbaya di Tengah Sidang Parlemen: Prabowo Tunjuk Suahasil Jadi Menkeu Usai Rating RI Anjlok dan Rupiah Ambles
OBROLANBISNIS.com — Sebuah drama politik-ekonomi tingkat tinggi terjadi di Istana Negara pada Senin (14/9/2026). Presiden Prabowo Subianto secara mengejutkan mencopot Purbaya Yudhi Sadewa dari kursi Menteri Keuangan dan langsung melantik sang wakil, Suahasil Nazara, sebagai penggantinya.
Pergantian kilat ini langsung memicu kegemparan di pasar finansial dan menjadi sorotan utama media-media internasional seperti Reuters dan The Business Times Singapura.
Kejatuhan Purbaya yang belum genap satu tahun menjabat ini dinilai sebagai puncak dari rentetan guncangan ekonomi, mulai dari anjloknya nilai tukar rupiah, pembengkakan defisit APBN, hingga perselisihan internal terkait dana raksasa Danantara.
Drama Sidang Parlemen: Pergi Sebelum Rapat Selesai
Keputusan pencopotan ini diwarnai atmosfer yang dramatis. Saat surat keputusan pemecatan disiapkan di Istana, Purbaya (61 tahun) dilaporkan sedang mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama parlemen.
Dilansir dalam laman CNBC Indonesia, di tengah-tengah sidang yang masih berjalan, Purbaya terlihat keluar lebih awal dan meninggalkan ruangan.
Tak lama berselang, Suahasil Nazara (55 tahun) tiba di Istana Negara bersama sejumlah pejabat senior untuk diambil sumpah jabatannya sebagai Bendahara Negara yang baru.
Purbaya sendiri bungkam dan tidak segera memberikan komentar saat dikonfirmasi oleh media.
Rekam Jejak Purbaya: Agresif yang Berujung Rapor Merah
Purbaya awalnya ditunjuk Prabowo pada September tahun lalu untuk menggantikan Sri Mulyani Indrawati demi mengejar target pertumbuhan ekonomi yang agresif.
Namun, strategi suntikan likuiditas cepat ke perbankan yang ia terapkan justru memicu konflik terbuka dengan Bank Sentral (BI). Akibat kebijakan fiskal yang dinilai terlalu berisiko, ekonomi Indonesia harus membayar mahal:
Rating Indonesia Anjlok: Dua lembaga pemeringkat kredit internasional langsung menurunkan prospek peringkat Indonesia dari positif menjadi negatif akibat ketidakpastian rencana belanja negara.
Kisruh Giga-Dana Danantara: Kontroversi terakhir dipicu oleh pengumuman sepihak Purbaya yang menyebut sovereign wealth fund Danantara Indonesia akan mentransfer Rp120 triliun keuntungannya ke pemerintah demi menambal defisit APBN.
Rencana ini langsung dibantah oleh Ketua Danantara yang mengaku tidak pernah diajak bicara.
Suahasil Nazara: Sang Teknokrat Penyelamat Sentimen Pasar
Masuknya Suahasil Nazara sebagai Menkeu baru dipandang para analis sebagai langkah darurat APBN untuk mengembalikan kepercayaan investor.
Sebagai teknokrat murni yang menjabat Wamenkeu sejak 2019, Suahasil dinilai paham betul cara menavigasi strategi fiskal yang prudent (hati-hati).
“Kami meyakini penunjukan Suahasil sebagai menteri keuangan yang baru akan disambut positif oleh pasar. Pengalamannya yang luas diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan terhadap keberlanjutan pengelolaan ekonomi,” ujar Henry Wibowo, salah satu pendiri Alphagate Capital.
Langkah berani Presiden Prabowo ini menegaskan pesan kuat kepada pasar global: pemerintah siap mengorbankan ego pertumbuhan agresif demi menyelamatkan kredibilitas fiskal Indonesia di mata dunia G20.
(Cnbc/May)






















