Isi Konten
- Memahami Penyebab Gangguan Pertumbuhan : Merck Perkenalkan takartinggi.com
- Merck Komit Mendukung Pertumbuhan Optimal Anak-anak Indonesia
- Faktor Penyebab Perawakan Pendek
- takattinggi.com Membantu Orang Tua Memantau Pertumbuhan Anak
Memahami Penyebab Gangguan Pertumbuhan : Merck Perkenalkan takartinggi.com
OBROLANBISNIS.com — PT Merck Tbk (Merck) kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung pertumbuhan optimal anak Indonesia melalui edukasi yang berkelanjutan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai gangguan pertumbuhan anak.
Selain itu Merck juga memperkenalkan laman interaktif takartinggi.com dan buku anak “Arka dan Mimpi ke Luar Angkasa” sebagai sarana edukasi sekaligus membantu orang tua untuk memantau pertumbuhan anak secara rutin.
REKOMENDASI: Harga Emas Turun: Kesempatan atau Ancaman bagi Investor?
Stunting dan masalah nutrisi selama ini menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai pertumbuhan anak di Indonesia, sehingga perhatian terhadap pertumbuhan anak kerap berfokus pada pemenuhan dan perbaikan gizi. Hal ini tercermin dari data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang mencatat prevalensi stunting nasional sebesar 19,8%.
Namun, gangguan pertumbuhan pada anak memiliki spektrum yang lebih luas. Perawakan pendek, misalnya, tidak hanya dapat disebabkan oleh faktor nutrisi, tetapi juga dapat berkaitan dengan Growth Hormone Deficiency (GHD), Small for Gestational Age (SGA), hypothyroidism. Selain itu, juga terdapat faktor genetik seperti Turner Syndrome maupun kondisi medis kronis lainnya.
Pada sebagian anak dengan perawakan pendek, penyebab spesifik juga tidak dapat diidentifikasi meskipun telah dilakukan evaluasi menyeluruh. Kondisi ini dikenal sebagai Idiopathic Short Stature (ISS). Selain berdampak pada pertumbuhan fisik, gangguan pertumbuhan juga dapat memengaruhi aspek psikososial anak.
REKOMENDASI: JPN Kejari Siak Kawal Pembangunan Desa
Merck Komit Mendukung Pertumbuhan Optimal Anak-anak Indonesia
Evie Yulin, Presiden Direktur PT Merck Tbk menyatakan, sebagai perusahaan sains dan teknologi terkemuka, Merck berkomitmen mendukung pertumbuhan optimal anak-anak Indonesia melalui edukasi yang berkelanjutan.
Bersama berbagai pemangku kepentingan, termasuk media dan komunitas, kami mendorong pemahaman masyarakat tentang pentingnya memantau pertumbuhan anak secara rutin dan mengenali potensi gangguan, termasuk perawakan pendek (short stature), sejak dini.
“Kami berharap edukasi ini membantu lebih banyak orang tua memahami pola pertumbuhan anak dan mengetahui kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan,” kata Evie.
REKOMENDASI: Mengusung Baterai Besar 6.000 mAh, Samsung Galaxy A08 Cocok Menjadi Ponsel Harian Untuk Jangka Panjang
Faktor Penyebab Perawakan Pendek
Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp. End., FAAP, FRCPI, Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi dan Ketua Umum Yayasan Kesehatan Anak Global menjelaskan, perawakan pendek pada anak dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, sehingga tidak dapat serta-merta disamakan dengan stunting atau hanya dianggap sebagai masalah nutrisi.
Selain faktor nutrisi, perawakan pendek juga dapat berkaitan dengan gangguan hormonal, kondisi genetik, hingga penyakit kronis. Gangguan hormonal yang dapat menyebabkan perawakan pendek antara lain Growth Hormone Deficiency (GHD), Small for Gestational Age (SGA), dan hipotiroidisme (hypothyroidism). Data survei menunjukkan prevalensi panjang badan lahir <48 cm sebesar 19,8% pada SGA.
Faktor genetik juga dapat berperan, misalnya Sindrom Turner dengan prevalensi sekitar 1:1.500–2.000 pada kelahiran bayi perempuan hidup. Secara global, GHD diperkirakan terjadi pada sekitar 1 dari 4.000–10.000 anak.
REKOMENDASI: Penerapan Higiene Industri Penting Cegah Kecelakaan Kerja
Pada sebagian anak lainnya, penyebab spesifik tidak dapat diidentifikasi meskipun telah dilakukan evaluasi menyeluruh, yang dikenal sebagai Idiopathic Short Stature (ISS).
Menurut Prof. Aman hal yang perlu diperhatikan bukan hanya tinggi badan anak pada satu waktu, tetapi pola pertumbuhan dan laju penambahan tinggi dari waktu ke waktu.
“Yang perlu diperhatikan bukan hanya tinggi badan anak pada satu waktu, tetapi bagaimana pertumbuhannya dari waktu ke waktu. Apabila terdapat pola pertumbuhan yang berbeda dari yang diharapkan, orang tua dapat segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut dan penanganan yang sesuai,” kata Prof. Aman.
Selain dampak pada pertumbuhan fisik, gangguan pertumbuhan juga dapat berdampak pada aspek psikososial, seperti membuat anak merasa berbeda, kurang percaya diri, bahkan berpotensi menjadi korban perundungan.
REKOMENDASI: Hakim Ad Hoc Pengadilan Hubungan Industrial Jaga Kepastian Hukum Bagi Pekerja dan Pengusaha
Testimoni Orangtua dari Anak dengan GHD
Merien Frentinia, orang tua dari anak dengan GHD, berbagi pengalamannya ketika menyadari bahwa pertumbuhan putri keduanya, mengalami hambatan. Meski merasa telah memberikan nutrisi yang cukup, Merien melihat adanya hal yang perlu diperhatikan pada pertumbuhan putrinya.
Saat itu, ia masih berusia 7 tahun dan duduk di bangku kelas satu SD. Merien bercerita bahwa putrinya memang lebih pendek dibandingkan dengan teman sebayanya di sekolah. Hal tersebut diperkuat dengan informasi dari putri sulungnya yang melihat hasil pengukuran tinggi badan adiknya di sekolah.
Kakaknya menyadari bahwa berdasarkan pengukuran tinggi badan setiap bulan, selama satu tahun tinggi putri bungsunya tetap berada di angka 113 cm. Temuan tersebut mendorong Merien dan keluarga untuk mencari tahu lebih lanjut dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, dalam hal ini Prof. Aman.
REKOMENDASI: Data Tenaga Kerja Asing Bisa Jadi Acuan Penyiapan Tenaga Kerja Indonesia
“Saat itu saya sempat berpikir, apakah terlalu cepat untuk bertemu Prof. Aman. Namun, kami memilih untuk segera berdiskusi dan mencari tahu lebih lanjut. Setelah menjalani rangkaian pemeriksaan, putri bungsunya kemudian didiagnosis mengalami GHD dan membutuhkan terapi hormon pertumbuhan,” ujar Merien.
Sejak kelas dua SD hingga kini duduk di kelas lima SD, putri bungsunya telah menjalani terapi hormon pertumbuhan. Menurut Merien, selama kurang lebih tiga tahun menjalani terapi, tinggi badan sang anak bertambah sekitar satu sentimeter setiap bulannya.
Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari pertumbuhan fisiknya, tetapi juga dari kepercayaan dirinya. Bagi Merien, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa ketika pertumbuhan anak menunjukkan pola yang perlu diperhatikan, orang tua tidak perlu ragu untuk mencari informasi dan berdiskusi dengan tenaga kesehatan untuk memahami kondisi anak serta langkah yang tepat untuk mendukung pertumbuhannya.
REKOMENDASI: Pengesahan RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Ditargetkan Oktober 2026
takattinggi.com Membantu Orang Tua Memantau Pertumbuhan Anak
Pengalaman Merien menunjukkan pentingnya melihat pertumbuhan anak secara lebih menyeluruh dan memantaunya secara rutin.
Sejalan dengan upaya tersebut, Merck menghadirkan laman interaktif takartinggi.com untuk membantu orang tua memantau pertumbuhan anak dengan mempertimbangkan tinggi badan orang tua dan memahami potensi pertumbuhan anak.
Inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen Merck untuk mendorong orang tua lebih peka terhadap pola pertumbuhan anak dan mengambil langkah yang tepat apabila terdapat hal yang perlu diperhatikan.
Selain takartinggi.com, Merck juga meluncurkan buku cerita anak “Arka dan Mimpi ke Luar Angkasa” sebagai sarana edukasi yang menarik dan mudah dipahami oleh seluruh anggota keluarga.
REKOMENDASI: Menteri Pendidikan Nadiem Makarim Terbukti Korupsi Dipenjara 9 Tahun dan Uang Pengganti Rp.548 M
Kedua inisiatif ini dihadirkan untuk membantu keluarga Indonesia untuk memahami dan lebih aktif memantau pertumbuhan anak sejak dini.
“Kami percaya edukasi dan kolaborasi yang berkelanjutan dapat membantu membangun pemahaman serta kewaspadaan yang lebih baik mengenai gangguan pertumbuhan anak. Melalui berbagai upaya ini, Merck berharap semakin banyak anak-anak Indonesia yang dapat tumbuh dengan optimal sesuai dengan potensinya,” ucap Evie Yulin. ***relOB3























