Amankan Konektivitas Geoekonomi, Indonesia-China Perkuat Akar Hubungan ‘People-to-People’ Lewat IFSRC

Isi Konten:

 

  • Sejarah Panjang Hubungan RI – China
  • Menepis Sentimen ‘Benturan Peradaban’ Lewat GCI
  • Respons Positif RI dan Agenda Sosialisasi Daerah

 

 

Amankan Konektivitas Geoekonomi, Indonesia-China Perkuat Akar Hubungan ‘People-to-People’ Lewat IFSRC

 

OBROLANBISNIS.com — Dinamika kemitraan strategis antara Indonesia dan Republik Rakyat China (RRC) kini tidak lagi hanya bertumpu pada kesepakatan tingkat tinggi antarpemerintah (government-to-government), melainkan mulai merambah penguatan akar rumput yang masif.

Sejarah Panjang Hubungan RI – China

Langkah ini ditegaskan melalui peluncuran Indonesia Friends of Silk Road Club (IFSRC) di Jakarta Pusat, Selasa (15/9/2026), yang menjadi wadah baru penyelarasan gagasan global Global Civilization Initiative (GCI) usulan Presiden China Xi Jinping.

Kuasa Usaha Kedutaan Besar China di Indonesia, Zhou Kan, mengungkapkan bahwa fondasi GCI sebenarnya memiliki akar sejarah yang sangat panjang dan inheren dengan hubungan kedua negara selama ribuan tahun.

“Pada tahun 2013, Presiden Xi Jinping untuk pertama kalinya mengusulkan Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 saat berpidato di hadapan DPR RI,” ujar Zhou Kan dalam laman CNBC Indonesia.

Menurutnya, inisiatif ini sengaja dihidupkan kembali guna meneruskan semangat Jalur Sutra Kuno sekaligus membuka ruang-ruang baru bagi aspek konektivitas, perdagangan, dan pertukaran kebudayaan di tengah situasi dunia yang kian terfragmentasi.

Menepis Sentimen ‘Benturan Peradaban’ Lewat GCI

Di tengah tensi geopolitik global yang dinamis, implementasi GCI di Indonesia dinilai krusial untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan iklim investasi asing. Zhou menekankan empat pilar utama dalam GCI yang mencakup:

  • Menghormati keragaman peradaban dunia
  • Menjunjung tinggi nilai-nilai bersama umat manusia
  • Menghargai pewarisan serta inovasi peradaban
  • Memperkuat kerja sama internasional antarmasyarakat

Prinsip-prinsip tersebut dinilai menjadi instrumen penting untuk membantah teori bentrokan peradaban (clash of civilizations) maupun pandangan superioritas antarnegara, sekaligus mempertebal rasa saling percaya (mutual trust) yang dibutuhkan dalam kerja sama ekonomi jangka panjang.

Sejauh ini, Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative/BRI) milik China diklaim telah selaras dengan arah strategi pembangunan infrastruktur nasional Indonesia.

Respons Positif RI dan Agenda Sosialisasi Daerah

Respons positif dari pihak domestik salah satunya telah diwujudkan melalui Forum Dialog Global yang diinisiasi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama DPR RI dan DPD RI pada Juni lalu untuk merayakan Hari Dialog Antarperadaban Internasional PBB.

Direktur Sino-Nusantara Institute, Ahmad Syaifuddin Zuhri, menyatakan bahwa jembatan people-to-people merupakan kunci utama agar dampak positif kerja sama ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat bawah.

Wadah IFSRC dirancang untuk melibatkan para pelaku bisnis, akademisi, pemuda, hingga pelajar melalui serangkaian program diskusi, seminar, dan pertukaran pemuda.

Sebagai langkah konkret pasca-peluncuran di Jakarta, Sino-Nusantara Institute yang telah bergerak sejak 2023 tengah bersiap menggelar roadshow di berbagai kota besar di Indonesia.

Agenda ini difokuskan untuk menyosialisasikan pentingnya pertukaran peradaban antargenerasi muda kedua negara, sekaligus memperkuat jejaring ekonomi kreatif lokal yang terhubung langsung dengan pasar global.

 

(Cnbc/May)

Pos terkait