Ketika Gelar Sarjana Kalah oleh Tuntutan Perut: Potret Buram Lapangan Kerja RI

Isi Konten:

 

  • Tamparan Keras Relaitas Ekonomi RI
  • RI Belum Mampu Ciptakan Lapangan Pekerjaan
  • Alarm Bagi Para Pembuat Kebijakan

 

Ketika Gelar Sarjana Kalah oleh Tuntutan Perut: Potret Buram Lapangan Kerja RI

 

OBROLANBISNIS.com – Ada yang retak dalam sistem pendidikan dan ketenagakerjaan kita ketika gelar sarjana tak lagi menjadi jaminan kesejahteraan, melainkan sekadar ornamen di lembar ijazah.

Tamparan Keras Realitas Ekonomi RI

Fenomena Maha (31), lulusan S1 Ekonomi Pembangunan yang memilih menjadi Asisten Rumah Tangga (ART) di Taiwan, bukanlah sekadar kisah inspiratif tentang kegigihan.

Ini adalah tamparan keras bagi realitas ekonomi domestik. Ini adalah cerita tentang keputusasaan yang dikemas dalam bentuk keberanian.

Bagaimana mungkin, seorang sarjana yang menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari teori pertumbuhan ekonomi dan kebijakan pembangunan, justru harus menyelamatkan ekonominya sendiri dengan cara membersihkan rumah empat lantai di negeri orang?

Dilansir dalam laman CNBC INdonesia, jawabannya sederhana namun menyakitkan: Gengsi gelar akademik telah kalah telak oleh tuntutan perut.

Maha hanyalah satu dari fenomena gunung es. Di bawah permukaan, ada ribuan sarjana lain—seperti lulusan Manajemen yang menjadi ART di Singapura atau lulusan Administrasi yang menjadi buruh migran di Hong Kong—yang mengambil jalan serupa.

Mereka adalah korban dari sebuah paradoks besar: biaya pendidikan tinggi terus melambung, namun nilai tawar tenaga kerja di dalam negeri justru menukik tajam.

Bekerja di instansi terhormat dengan seragam rapi di Indonesia sering kali hanya dibayar dengan upah minimum (UMR). Bagi mereka yang merantau dan memikul beban utang keluarga, UMR adalah jebakan kemiskinan struktural yang baru.

UMR habis untuk kos dan makan, menyisakan nol rupiah untuk tabungan, dan menyisakan tumpukan stres setiap akhir bulan. Maka, ketika Taiwan menawarkan Rp10 juta per bulan untuk pekerjaan domestik, pembatas bernama “gengsi sarjana” itu runtuh seketika.

Rp10 juta adalah angka yang rasional. Angka yang bisa melunasi utang keluarga dalam setahun. Angka yang gagal diberikan oleh pasar kerja di Indonesia bagi seorang lulusan baru.

RI Belum Mampu Ciptakan Lapangan Pekerjaan

Tentu kita harus angkat topi pada mentalitas Maha. Pendidikan tinggi yang ditempuhnya tidak sia-sia; itu tercermin dari caranya berpikir, mengelola emosi, dan memandang pekerjaannya secara bermartabat.

Menjadi ART bukanlah pekerjaan rendahan. Pekerjaan apa pun yang halal adalah mulia. Namun, sudut pandang kita tidak boleh berhenti pada romantisasi “kerja keras”.

Kita harus berani melihat ini sebagai sebuah kritik makro. Mengapa negara ini belum mampu menciptakan lapangan kerja yang layak dan dihargai proporsional bagi para intelektual mudanya?

Alarm Bagi Para Pembuat Kebijakan

Mengapa mengejar kesejahteraan hidup harus dilalui dengan cara tertidur di kamar mandi karena kelelahan bekerja 15 jam sehari di negara orang?

Kisah Maha dan para sarjana migran lainnya adalah alarm nyaring bagi para pembuat kebijakan.

Selama pasar kerja domestik masih pelit menghargai keahlian dan terjebak dalam lingkaran upah murah, maka selama itu pula “pelarian modal manusia” (brain drain) terbaik kita ke sektor-sektor kasar di luar negeri akan terus terjadi.

Sebab pada akhirnya, di hadapan tagihan dan utang yang menagih tiap bulan, selembar ijazah sarjana tidak pernah bisa dipakai untuk membayar apa-apa.

 

(Cnbc/Kda)

 

Pos terkait